Senin, 30 Desember 2013 07:53
Motif mereka melakukan serangkain aksi penembakan, sambung Kapolda, hingga kini masih misterius. ‘’Belum diketahui secara pasti apa motif merka melakukan penembakan,’’singkatnya.
Dalam setiap melancarkan aksi penembakan, kelompok Johni Beanal ini menggunakan senjata api jenis M16. ‘’Senjata mereka M16, dalam setiap aksi mereka sangat perhitungan baik terhadap sasaran maupun logistik amunisi, selau menembak dalam hitungan detik tepat sasaran untuk irit peluru. Setelah beraksi mereka langsung kabur ke hutan,’’paparnya.
Mengenai amunisi yang dimiliki kelompok itu, Kapolda tidak membantah, kemungkinan diperoleh dari oknum aparat. ‘’Mungkin bisa saja mereka cari peluru dari aparat,’’pungkasnya.
Yang pasti, tambahnya, pengawalan terhadap kendaraan yang melintas areal Freeport terus ditingkatkan. ‘’Kami perketat pengawalan kendaraan juga di pos-pos penjagaan baik itu Brimob maupun TNI,’’ucapnya.
Kapolda mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim untuk mengejar para pelaku. “Kami sudah bentuk tim untuk kejar pelaku ke hutan, namun sulitnya medan menjadi salah satu kendala,’’imbuhnya.
Namun, langkah persuasif tetap dikedepankan, dengan menghimbau para pelaku untuk menghentikan aksinya. ‘’Langkah persuasif kami, membangun komunikasi dengan sejumlah pihak untuk meminta kelompok itu menghentikan aksinya,’’kata dia.
Menyikapi klaim Kapolda bahwa tidak ada keterlibatan TNI dan Polri dalam serangkain aksi penembakan itu, Imparsial LSM Pemerhati HAM mengatakan, jika Polda Papua sudah mampu mengidentifikasi kelompok yang melakukan aksi kekerasan di Areal Freeport adalah kelompok John Beanal dan Tony Kwalik, maka proses penyidikan harus segera dilakukan. ‘’Jangan sampai para pelaku melakukan kekerasan lagi. Polda harus segera melakukan pemeriksaan terhadap para saksi, menetapkan status tersangka dan melakukan penangkapan terhadap para pelaku, agar tidak mengulangi kejahatan mereka lagi,’’ujar Dierktur EKSEKUTIF Imparsial Poengki Indarti meallui pesan singkatnya, Minggu 29 Desember.
Dalam upaya penangkapan, jangan menggunakan cara yang dapat mematikan.” Hal yg paling penting adalah tetap menghormati asas praduga tak bersalah dan menghormati hak-hak tersangka, agar dapat diproses hukum secara fair,’’imbuhnya.
TNI/Polri Harus Tegas Beri Rasa Aman
Sementara itu Ketua Klasis GKI Jayapura Pendeta Willem Itaar, S.Th., ketika dijumpai dikediamannya di Kamkey, Abepura,Sabtu (28/12) mengkritik serangkaian penembakan di Areal PT Freeport, terutama yang terjadi di masa raya natal.
Ditegaskan, pihaknya menyampaikan khususnya kepada TNI/Polri serta Pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Papua maupun Pemerintah Kabupaten Mimika harus ada ketegasan memberi rasa aman kepada siapapun di areal Freeport.
Mantan Ketua KPU Mimika ini mengatakan, sebagai masyarakat yang mencintai kedamaian di Tanah Papua pihaknya sangat kesal dengan pelbagai kejadian yang membuat masyarakat tak aman, kehidupan mereka terganggu, bahkan menghilangkan nyawa dari pelbagai peristiwa di Tanah Papua ini. “Kami punya iman Kristen, itu tak menyenangkan hati Allah. Sebab Allah tak berkehendak kejadian-kejadian yang membuat orang lain merasa takut dan gelisah, bahkan menghilangkan nyawa orang lain demi sebuah kepentingan dan kekuasaan, apalagi merekayasa sesuatu,” tukas Willem Itaar.
Diutarakan, Alkitab menulis, peristiwa-peristiwa semacam ini mau memberi gambaran betapa dunia itu selalu tak aman, diakibatkan prilaku manusia yang tak menghargai ciptaan Allah, baik alam dan juga sesama karena orang-orang bersangkutan juga tak takut Allah.
“Apakah orang itu dia disebut orang beragama ataukah orang itu dia sebagai orang tak percaya dan tak beragama. Padahal semua manusia siapapun dia harus memberi rasa aman kepada setiap orang,” ujar Willem Itaar, yang pada 1997 hingga 2006 memberikan pelayanan bagi pimpinan dan karyawan Freeport di Tembagapura, Kuala Kencana dan Timika.
Karenanya, tandas Willem Itaar, apabila ada kelompok Orang Tak Dikenal (OTK) dia itu orang Papua, orang Kristen, pihaknya menghimbau karena orang Kristen mengajar bahwa kasihilah sesamamu manusia, karena kami mengasihi Allah sehingga hal-hal yang mengganggu keamanan dan mengganggu kebersamaan akhirnya juga akan menghilangkan nyawa orang. “Ini bagi Allah tak baik sebab Allah tak berkehendak sesama manusia saling membunuh,”katanya.
Dikatakan, mari bersama-sama menyenangkan hati, menyejukkan hati, dengan hati yang baik kita merayakan Natal, meninggalkan tahun 2013 dan memasuki tahun 2014 dengan segala yang baik dengan kasih Allah, dengan Syalom Allah dan benar-benar Allah yang Raja Damai tinggal didalam hati hidup kita keluarga dan dalam seluruh pekerjaan.
“Tuhan Yesus Kristus seperti apa yang disampaikan oleh injil Yohanes karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dia mengaruniakan anaknya yang Tunggal. Betapa Allah mengasihi dunia ini dia rela melepaskan anak yang tunggal, sesungguhya dia sendiri datang kedunia untuk memperdamaikan sesama kita di dunia,” imbuh Willem Itaar.
Berkaitan dengan peristiwa penembakan di areal PT Freeport, lanjut Willem Itaar, pihaknya mengalami dan merasakan situasi dan kondisi di Timika. Timika acapkali dianonimkan Tiap Minggu Kacau. Tapi sesungguhnya Timika tak seperti itu, karena sebenarnya Timika salah-satu daerah yang jika ditata bagus dia salah-satu daerah yang cukup aman.
Willem Itaar mengatakan, pihak yang selalu membuat kekacauan di Freeport adalah kelompok orang yang lantaran sebuah kepentingan hidup dia membuat suatu rekayasa untuk mendapatkan kehidupan itu.
“Ada kelompok yang menginginkan sesuatu kekuasaan terus merekayasa sesuatu untuk mendapatkan kekuasaan. Ada juga hal-hal yang membuat orang lain merasa takut sehingga kelompok-kelompok itu bisa berakses segampang dan semudah melakukan sesuatu di Timika,” urai Willem Itaar.
Beber Willem Itaar, pengamanan di areal Freeport didukung TNI/Polri dan sistemnya berlapis-lapis. Ada angkatan yang dikhususkan menjaga kekayaan negara. Freeport memberi makan untuk negara ini dan untuk dunia sehingga dia patut dijaga karena itu sebuah kekayaan negara serta warga yang datang untuk bekerja dan mencari nafkah. Dari sisi keamanan Freeport dijaga berlapis-lapis angkatan dengan sebuah kecanggihan-kecanggihan teknologi yang dirancang dan bisa mengakses dan melihat tambang disudut manapun. Tapi kenapa nggak bisa melihat manusia dibawah pohon kayu. Apalagi aksi penembakan terus di daerah yang sama. Pasukan yang ada disana dimana.
“Di tempat yang sama peristiwa itu terus terjadi. Anehnya mereka hanya tembak mobil tak diarahkan kepada manusia. Jadi aneh,” tutur Willem Itaar.
Dikatakan, masyarakat disekitar areal Freeport yang merasa kurang puas karena hak –haknya digerogoti. Padahal sebenarnya sudah ada pendekatan-pendekatan pihak Freeport dengan masyarakat melalui lembaga-lembaga seperti Lembaga Masyarakat Adat Amungme (LEMASA), Lembaga Masyarakat Adat Komoro (LEMASKO) dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Komoro (LPMAK) yang dibentuk untuk kesejahteraan masyarakat setempat, tapi kenapa tak pernah berpuas hati.
“Ada lembaga-lembaga atas nama masyarakat yang dari hasil itu mereka hidup sehingga saya pikir Freeport sudah sangat luar biasa memberi akses dan dampak bagi sebuah kehidupan,” tandas Willem Itaar.
Sebagaimana diwartakan, penembakan di Areal PT Freeport sebagai berikut pada Jumat (27/12) sekitar pukul 13.30 WIT telah terjadi insiden penembakan di Mile 41 adapun trailer yang terkena tembakan antara lain. Trailer No. Lambung 02 XXX, kena pada kaca pintu kanan. Trailer 02-0868 kenakaca pintu kanan. Trailer 02-0956 kenapada Blower AC. Trailer 02-1014 kena pada pintu kanan. Trailer 02-0896 kena pada pintu kanan. Trailer 02-1097kenapada Kap Engine Trailer 02-0826 kena pada Kap diatas ban depan kanan. Korban manusia nihil. Seluruh trailer terus melanjutkan perjalanan ke Mile 50. (Mdc/jir/don/l03)
Kapolda: 100% TNI/Polri Tak Terlibat
Penembakan di Freeport
JAYAPURA
- Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian mengklaim, anggota TNI dan
Polri sama sekali tidak terlibat dalam aksi penembakan yang terjadi di
Areal PT Freeport, termasuk penembakan konvoi Trailer Freeport.
“Sudah terdeteksi, 100 persen tidak ada anggota TNI maupun Polri yang terlibat dalam serangkaian aksi penembakan di Areal Freeport yang terjadi belakangan ini,’’tandas Kapolda kepada wartawan beberapa hari lalu.
Menurutnya, selain memastikan tidak ada keterlibatan anggota TNI dan Polri dalam serangkaian aksi penembakan itu, pihaknya juga sudah berhasil mengidentifikasi pelaku. ‘’Kami sudah mendeteksi pelaku penembakan di areal Freeport, mereka ada dua kelompok yakni kelompok atas dan bawah,’’ungkapnya.
Dari hasil identifikasi, lanjut Kapolda, kelompok atas yakni yang kerap beraksi di Mile 71-68 adalah pimpinan YAW. “Mereka ini bergabung dengan para pendulang dan melakukan aksi penembakan untuk motif ekonomi,’’jelasnya.
Sedangkan kelompok bawah yakni yang selalu beraksi di mile 38-41, adalah kelompok Tony Kwalik pimpinan Johni Botak yang bermarkas di Kali Kopi. ‘’Nama asli Johni Botak ini adalah Johni Beanal anggotanya ada sekitar 10 orang dan merekalah yang selalu berasi di Mile 41,’’tukasnya.
“Sudah terdeteksi, 100 persen tidak ada anggota TNI maupun Polri yang terlibat dalam serangkaian aksi penembakan di Areal Freeport yang terjadi belakangan ini,’’tandas Kapolda kepada wartawan beberapa hari lalu.
Menurutnya, selain memastikan tidak ada keterlibatan anggota TNI dan Polri dalam serangkaian aksi penembakan itu, pihaknya juga sudah berhasil mengidentifikasi pelaku. ‘’Kami sudah mendeteksi pelaku penembakan di areal Freeport, mereka ada dua kelompok yakni kelompok atas dan bawah,’’ungkapnya.
Dari hasil identifikasi, lanjut Kapolda, kelompok atas yakni yang kerap beraksi di Mile 71-68 adalah pimpinan YAW. “Mereka ini bergabung dengan para pendulang dan melakukan aksi penembakan untuk motif ekonomi,’’jelasnya.
Sedangkan kelompok bawah yakni yang selalu beraksi di mile 38-41, adalah kelompok Tony Kwalik pimpinan Johni Botak yang bermarkas di Kali Kopi. ‘’Nama asli Johni Botak ini adalah Johni Beanal anggotanya ada sekitar 10 orang dan merekalah yang selalu berasi di Mile 41,’’tukasnya.
Motif mereka melakukan serangkain aksi penembakan, sambung Kapolda, hingga kini masih misterius. ‘’Belum diketahui secara pasti apa motif merka melakukan penembakan,’’singkatnya.
Dalam setiap melancarkan aksi penembakan, kelompok Johni Beanal ini menggunakan senjata api jenis M16. ‘’Senjata mereka M16, dalam setiap aksi mereka sangat perhitungan baik terhadap sasaran maupun logistik amunisi, selau menembak dalam hitungan detik tepat sasaran untuk irit peluru. Setelah beraksi mereka langsung kabur ke hutan,’’paparnya.
Mengenai amunisi yang dimiliki kelompok itu, Kapolda tidak membantah, kemungkinan diperoleh dari oknum aparat. ‘’Mungkin bisa saja mereka cari peluru dari aparat,’’pungkasnya.
Yang pasti, tambahnya, pengawalan terhadap kendaraan yang melintas areal Freeport terus ditingkatkan. ‘’Kami perketat pengawalan kendaraan juga di pos-pos penjagaan baik itu Brimob maupun TNI,’’ucapnya.
Kapolda mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim untuk mengejar para pelaku. “Kami sudah bentuk tim untuk kejar pelaku ke hutan, namun sulitnya medan menjadi salah satu kendala,’’imbuhnya.
Namun, langkah persuasif tetap dikedepankan, dengan menghimbau para pelaku untuk menghentikan aksinya. ‘’Langkah persuasif kami, membangun komunikasi dengan sejumlah pihak untuk meminta kelompok itu menghentikan aksinya,’’kata dia.
Menyikapi klaim Kapolda bahwa tidak ada keterlibatan TNI dan Polri dalam serangkain aksi penembakan itu, Imparsial LSM Pemerhati HAM mengatakan, jika Polda Papua sudah mampu mengidentifikasi kelompok yang melakukan aksi kekerasan di Areal Freeport adalah kelompok John Beanal dan Tony Kwalik, maka proses penyidikan harus segera dilakukan. ‘’Jangan sampai para pelaku melakukan kekerasan lagi. Polda harus segera melakukan pemeriksaan terhadap para saksi, menetapkan status tersangka dan melakukan penangkapan terhadap para pelaku, agar tidak mengulangi kejahatan mereka lagi,’’ujar Dierktur EKSEKUTIF Imparsial Poengki Indarti meallui pesan singkatnya, Minggu 29 Desember.
Dalam upaya penangkapan, jangan menggunakan cara yang dapat mematikan.” Hal yg paling penting adalah tetap menghormati asas praduga tak bersalah dan menghormati hak-hak tersangka, agar dapat diproses hukum secara fair,’’imbuhnya.
TNI/Polri Harus Tegas Beri Rasa Aman
Sementara itu Ketua Klasis GKI Jayapura Pendeta Willem Itaar, S.Th., ketika dijumpai dikediamannya di Kamkey, Abepura,Sabtu (28/12) mengkritik serangkaian penembakan di Areal PT Freeport, terutama yang terjadi di masa raya natal.
Ditegaskan, pihaknya menyampaikan khususnya kepada TNI/Polri serta Pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Papua maupun Pemerintah Kabupaten Mimika harus ada ketegasan memberi rasa aman kepada siapapun di areal Freeport.
Mantan Ketua KPU Mimika ini mengatakan, sebagai masyarakat yang mencintai kedamaian di Tanah Papua pihaknya sangat kesal dengan pelbagai kejadian yang membuat masyarakat tak aman, kehidupan mereka terganggu, bahkan menghilangkan nyawa dari pelbagai peristiwa di Tanah Papua ini. “Kami punya iman Kristen, itu tak menyenangkan hati Allah. Sebab Allah tak berkehendak kejadian-kejadian yang membuat orang lain merasa takut dan gelisah, bahkan menghilangkan nyawa orang lain demi sebuah kepentingan dan kekuasaan, apalagi merekayasa sesuatu,” tukas Willem Itaar.
Diutarakan, Alkitab menulis, peristiwa-peristiwa semacam ini mau memberi gambaran betapa dunia itu selalu tak aman, diakibatkan prilaku manusia yang tak menghargai ciptaan Allah, baik alam dan juga sesama karena orang-orang bersangkutan juga tak takut Allah.
“Apakah orang itu dia disebut orang beragama ataukah orang itu dia sebagai orang tak percaya dan tak beragama. Padahal semua manusia siapapun dia harus memberi rasa aman kepada setiap orang,” ujar Willem Itaar, yang pada 1997 hingga 2006 memberikan pelayanan bagi pimpinan dan karyawan Freeport di Tembagapura, Kuala Kencana dan Timika.
Karenanya, tandas Willem Itaar, apabila ada kelompok Orang Tak Dikenal (OTK) dia itu orang Papua, orang Kristen, pihaknya menghimbau karena orang Kristen mengajar bahwa kasihilah sesamamu manusia, karena kami mengasihi Allah sehingga hal-hal yang mengganggu keamanan dan mengganggu kebersamaan akhirnya juga akan menghilangkan nyawa orang. “Ini bagi Allah tak baik sebab Allah tak berkehendak sesama manusia saling membunuh,”katanya.
Dikatakan, mari bersama-sama menyenangkan hati, menyejukkan hati, dengan hati yang baik kita merayakan Natal, meninggalkan tahun 2013 dan memasuki tahun 2014 dengan segala yang baik dengan kasih Allah, dengan Syalom Allah dan benar-benar Allah yang Raja Damai tinggal didalam hati hidup kita keluarga dan dalam seluruh pekerjaan.
“Tuhan Yesus Kristus seperti apa yang disampaikan oleh injil Yohanes karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dia mengaruniakan anaknya yang Tunggal. Betapa Allah mengasihi dunia ini dia rela melepaskan anak yang tunggal, sesungguhya dia sendiri datang kedunia untuk memperdamaikan sesama kita di dunia,” imbuh Willem Itaar.
Berkaitan dengan peristiwa penembakan di areal PT Freeport, lanjut Willem Itaar, pihaknya mengalami dan merasakan situasi dan kondisi di Timika. Timika acapkali dianonimkan Tiap Minggu Kacau. Tapi sesungguhnya Timika tak seperti itu, karena sebenarnya Timika salah-satu daerah yang jika ditata bagus dia salah-satu daerah yang cukup aman.
Willem Itaar mengatakan, pihak yang selalu membuat kekacauan di Freeport adalah kelompok orang yang lantaran sebuah kepentingan hidup dia membuat suatu rekayasa untuk mendapatkan kehidupan itu.
“Ada kelompok yang menginginkan sesuatu kekuasaan terus merekayasa sesuatu untuk mendapatkan kekuasaan. Ada juga hal-hal yang membuat orang lain merasa takut sehingga kelompok-kelompok itu bisa berakses segampang dan semudah melakukan sesuatu di Timika,” urai Willem Itaar.
Beber Willem Itaar, pengamanan di areal Freeport didukung TNI/Polri dan sistemnya berlapis-lapis. Ada angkatan yang dikhususkan menjaga kekayaan negara. Freeport memberi makan untuk negara ini dan untuk dunia sehingga dia patut dijaga karena itu sebuah kekayaan negara serta warga yang datang untuk bekerja dan mencari nafkah. Dari sisi keamanan Freeport dijaga berlapis-lapis angkatan dengan sebuah kecanggihan-kecanggihan teknologi yang dirancang dan bisa mengakses dan melihat tambang disudut manapun. Tapi kenapa nggak bisa melihat manusia dibawah pohon kayu. Apalagi aksi penembakan terus di daerah yang sama. Pasukan yang ada disana dimana.
“Di tempat yang sama peristiwa itu terus terjadi. Anehnya mereka hanya tembak mobil tak diarahkan kepada manusia. Jadi aneh,” tutur Willem Itaar.
Dikatakan, masyarakat disekitar areal Freeport yang merasa kurang puas karena hak –haknya digerogoti. Padahal sebenarnya sudah ada pendekatan-pendekatan pihak Freeport dengan masyarakat melalui lembaga-lembaga seperti Lembaga Masyarakat Adat Amungme (LEMASA), Lembaga Masyarakat Adat Komoro (LEMASKO) dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Komoro (LPMAK) yang dibentuk untuk kesejahteraan masyarakat setempat, tapi kenapa tak pernah berpuas hati.
“Ada lembaga-lembaga atas nama masyarakat yang dari hasil itu mereka hidup sehingga saya pikir Freeport sudah sangat luar biasa memberi akses dan dampak bagi sebuah kehidupan,” tandas Willem Itaar.
Sebagaimana diwartakan, penembakan di Areal PT Freeport sebagai berikut pada Jumat (27/12) sekitar pukul 13.30 WIT telah terjadi insiden penembakan di Mile 41 adapun trailer yang terkena tembakan antara lain. Trailer No. Lambung 02 XXX, kena pada kaca pintu kanan. Trailer 02-0868 kenakaca pintu kanan. Trailer 02-0956 kenapada Blower AC. Trailer 02-1014 kena pada pintu kanan. Trailer 02-0896 kena pada pintu kanan. Trailer 02-1097kenapada Kap Engine Trailer 02-0826 kena pada Kap diatas ban depan kanan. Korban manusia nihil. Seluruh trailer terus melanjutkan perjalanan ke Mile 50. (Mdc/jir/don/l03)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar